06 Februari 2009

10 Hal Yang Perlu Kita Ketahui Tentang Propaganda


1 - Menyajikan fakta (kebenaran) bukan berarti terlepas dari yang namanya propaganda; propaganda berkembang pesat dalam menyajikan berbagai jenis kebenaran, termasuk fakta yang hanya mengandung setengah kebenaran, fakta yg sama sekali tidak benar, fakta yang terbatas, lepas dari konteks kebenaran itu sendiri. Propaganda modern yang paling efektif adalah ketika propaganda tersebut menyajikan informasi seakurat mungkin. Menyajikan Kedustaan yang besar atau Kebohongan Tinggi merupakan bentuk propaganda yang paling tidak efektif.


2 - Propaganda tidaklah begitu banyak didesign untuk mengubah pendapat sebanyak sebagaimana ia didesign untuk memperkuat pendapat, prasangka dan sikap yang ada. Propaganda yang paling berhasil adalah propaganda yang akan mendorong manusia untuk beraksi atau sebaliknya memperkuat sesuatu yang tadinya sudah diyakini oleh manusia sebagai kebenaran, kemudian dijadikan sedemikian hingga orang itu tidak lagi mempercayai kebenaran tersebut dan menjadikannya malas melakukan kebenaran yang sebelumnya telah ia yakini.


3 - Pendidikan tidaklah memerlukan perlindungan maksimal melawan propaganda. Para cendikiawan dan mereka "yang berpendidikan" merupakan komponen yang paling ringkih terhadap kampanye propaganda, karena mereka:
cenderung menyerap kebanyakan informasi (termasuk informasi dari tangan kedua, kabar dari orang, desas-desus, dan informasi yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya);
terpaksa memiliki pendapat atas hal-hal yang terjadi pada suatu hari tertentu dan hingga dengan begitu mereka mengekspos pendapatnya sendiri lebih daripada pendapat-pendapat orang lain dan mengkampanyekan propaganda; dan
menganggap diri mereka sendiri bebas dari pengaruh propaganda, dengan cara demikian mereka telah membuat diri mereka sendiri lebih rentan terhadap propaganda.

4 - Apa yang membuat penelitian mengenai propaganda menjadi demikian meragukan adalah bahwa secara umum hal tersebut dianggap sebagai penelitian sisi yang lebih gelap dari sifat kami; penelitian mengenai kejahatan mereka lawan sisi baik kami. Mereka yang kami pertimbangkan sebagai kejahatan yang berkembang pesat dalam propaganda, sementara kami hanya menyebarkan kebenaran saja. Cara terbaik untuk mempelajari propaganda adalah dengan memisahkan pertimbangan-pertimbangan etis seseorang dari fenomena gejala itu sendiri. Propaganda berkembang pesat dan eksis, demi kepentingan etis dan tidak etis.


5 - Propaganda mencoba mengubah pendapat umum, khususnya untuk menjadikan orang agar menyesuaikan diri terhadap sudut pandang propagandis. Dalam segi ini, propaganda manapun merupakan suatu bentuk manipulasi, untuk merubah aktivitas individu menjadi aktivitas khusus.


6 - Bentuk-bentuk komunikasi Modern, termasuk media massa, merupakan alat-alat propaganda. Tanpa pemusatan monopoli media massa, bisa dipastikan tidak ada terjadi propaganda modern. Untuk propaganda agar berkembang pesat, media harus tetap terpusat, kantor berita dan layanannya harus dibatasi, pers harus berada di bawah pimpinan pusat, dan radio, film, dan monopoli televisi harus meliputi semuanya.


7 - Setiap orang harus peduli terhadap yang namanya propaganda, keterbatasannya, kekuatannya, pengaruhnya, dan kualitas persuasifnya, manakala seseorang menguasainya. Dengan mengatakan bahwa "seseorang bebas dari pengaruh propaganda" justru itu merupakan suatu tanda pasti bahwa propaganda tersebut telah tersebar dalam masyarakat.


8 - Propaganda Modern bermula di negara berhukum thoghut Amerika Serikat pada awal Abad 20-an. Selama Perang Dunia I, media massa diintegrasikan dengan metode hubungan masyarakat dan periklanan demi mengadvokasi dan membiayai bantuan untuk perang. Dewan Kembu mendirikan kampanye humas Amerika pertama untuk menyebarkan dan menebarkan ajaran injil dengan cara Amerika ke seluruh penjuru bola dunia.


9 - Di Negara thoghut Amerika Serikat, propaganda komersial pribadi merupakan hal yang sama pentingnya dengan gagasan demokrasi propaganda pemerintah. Iklan komersial menarik perhatian orang-orang melalui periklanan, yang merangsang fantasi dan dorongan hati yang tidak masuk akal, merupakan beberapa bentuk propaganda yang paling tersebar dalam keberadaannya hari ini.


10 - Propaganda dalam suatu sistem kuffar demokrasi memperlihatkan fakta dalam pengertian bahwa propaganda tersebut menciptakan "pengikut sejati" yang secara ideologi terikat dengan perkembangan demokrasi tersebut sebagaimana lainnya yang terikat secara ideologi atas kontrolnya. Pengabadian sistem kuffar demokrasi dan keyakinan ideal dalam menghadapi kekuatan yang terpusat dalam institusi-institusi propaganda (baik itu media maupun institusi-institusi politik) merupakan suatu bentuk kemenangan propaganda busuk yang terjadi dalam masyarakat modern Amerika (ص'l).

Artikel ini disusun oleh Nancy Snow, Ph.D. (Jacques Ellul, Propaganda) yang kemudian diterjemahkan secara bebas tanpa mengurangi makna yg sebenarnya.

Sumber: Theunjustmedia

05 Februari 2009

FATWA TENTANG NASYID


Fatwa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah
Beliau memiliki beberapa fatwa, mohon dikritisi.
Fatwa 1:
سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز س: ما حكم استماع أشرطة الأناشيد الإسلامية؟ جـ- الأناشيد تختلف فإذا كانت سليمة ليس فيها إلا الدعوة إلى الخير والتذكير بالخير وطاعة الله ورسوله والدعوة إلى حماية الأوطان من كيد الأعداء والاستعداد للأعداء ، ونحو ذلك ، فليس فيها شيء . أما إذا كان فيها غير ذلك من دعوة إلى المعاصي واختلاط النساء بالرجال أو تكشفهن عندهم أو أي فساد كان فلا يجوز استماعها .

Beliau ditanya: "Apa hukum mendengarkan kaset-kaset nasyid Islami?
Beliau menjawab:
"(Hukum) Nasyid memiliki perbedaan. Jika nasyid tersebut benar, tidak ada di dalamnya kecuali ajakan pada kebaikan dan peringatan pada kebaikan dan ketaatan kepada Allah dan RasulNya, serta ajakan kepada pembelaan kepada tanah air dari tipu daya musuh, dan menyiapkan diri melawan musuh, dan yang semisalnya, maka tidak apa-apa. Ada pun jika di dalam nasyid tidak seperti itu, berupa ajakan kepada maksiat, campur baur antara laki-laki dan wanita, atau para wanita membuka auratnya, atau kerusakan apa pun, maka tidak boleh mendengarkannya." (Selesai fatwa pertama)
Fatwa 2:
سماحة الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله : الأناشيد الإسلامية مثل الأشعار؛ إن كانت سليمة فهي سليمة ، و إن كانت فيها منكر فهي منكر ... و الحاصل أن البَتَّ فيها مطلقاً ليس بسديد ، بل يُنظر فيها ؛ فالأناشيد السليمة لا بأس بها ، والأناشيد التي فيها منكر أو دعوة إلى منكرٍ منكرةٌ ) [ راجع هذه الفتوى في شريط أسئلة و أجوبة الجامع الكبير ، رقم : 90 / أ [

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata:
"Nasyid-nasyid Islam itu seperti sya'ir-sya'ir. Jika dia benar isinya, maka dia benar. Jika di dalamnya terdapat kemungkaran, maka dia munkar .... wal hasil, memutuskan hukum nasyid secara mutlak (general/menyamaratakan) tidaklah benar, tetapi mesti dilihat dulu. Maka, jika nasyid-nasyid tersebut baik, maka tidak apa-apa. Dan nasyid-nasyid yang terdapat kemungkaran atau ajakan kepada kemunkaran, maka dia munkar." (Lihat fatwa ini dalam kaset tanya jawab, Al Jami' Al Kabir, no. 90/side. A) (selesai fatwa kedua)
Fatwa 3:
السؤال: كثر الكلام حول موضوع الأناشيد الإسلامية، والناس في حيرة حول هذا، وجاءت أسئلة بخصوص هذا الموضوع،أكثر من سؤال، فنرجوا من سماحتكم التفضّل ببيان ذلك وتوضيحه؟؟ فأجاب سماحة الشيخ عبد العزيز بن باز- رحمه الله :
الأناشيد الإسلامية فيها تفصيل، لا يمكن الجواب عنها مطلق، لا بد يكون فيها تفصيل؛ فكل شِعر أو أنشودة، سواء سمي أناشيد إسلامية أو غير ذلك، لابد أن يكون سليماً مما يخالف الشرع المطهّر، فإذا كان سليماً مما يُخالف الشرع المطهر في مدح قيمة الأخلاق كالكرم والجود، في الحث على الجهاد في سبيل الله، في الحث على حماية الأوطان من الأعداء، في الحث على الإخلاص لله في العمل، في الحث على بر الوالدين، وعلى إكرام الجار، على غير هذا من الشؤون الإسلامية، بأساليب واضحة ليس فيها ما يخالف الشرع المطهّر، فليس فيها بأس مثل ما قال الشافعي-رحمه الله- في الشعر- هو كان على خير نسق-: حسنه حسن، وقبيحه قبيح . قال النبي صلى الله عليه وسلم: " إن من الشعر حكمة ". الله قال-جلا وعلا-: " والشعراء يتبعهم الغاوون*ألم تر أنهم في كل واد يهيمون * وأنهم يقولون مالايفعلون * إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وذكروا الله كثيراً....... "الآية. فهؤلاء مُستَثنَون..إذا كان شعره سليماً، داخلاً في العمل الصالح..فهو مُستثنى. ومن كان شعره ليس داخلاً في ذلك بأن يدعو إلى ما يُخالف الشرع، فإنه لا يكون أمره طيباً، ولا ينبغي أن يُسمح له، بل ينبغي أن يُترك حتى يكون شعره موافقاً لشرع الله، سليماً مما يُخالفه. فكل أنشودة أو أناشيد ينبغي أن تُعرض على أهل العلم،على لجنة من أهل العلم ينظرونها، ويُنقّحونها، فإذا نقّحوها وبيّنوا أنها جائزة تُقدّم للمدرسة أو لغير المدرسة.. ولا تُقبل من كل أحد هذه الأناشيد بل تُنظر فيها من لجنة، إذا كانت من جهة المعارف فمن جهة المعارف، وإذا كانت من جهة المعاهد فمن جهة المعاهد..من أي جهة تكون هذه الأناشيد ؛لا يُسمح بها حتى تُعرض على لجنة من أهل العلم والبصيرة، المعروفين بالاستقامة والعلم بالشرع حتى ينظروا فيها، لأن التساهل فيها قد يُفضي إلى شرٍّ كثير..فلا بد أن تُعرض على أهل العلم الذين يُعرف فيهم العلم والفضل والغيرة الإسلامية..[كلمة غير واضحة] فيها، ويبينون مافيها من خلل، ثم يوجِّهون أهل الأناشيد إلى ماهو الأفضل..فقال السائل: طبعاً من رأي سماحتكم أن لا تطغى هذه الأناشيد على الإنصراف عن سماع القرآن الكريم، لأن بعض الإخوة يشتكي بأنها صرفتهم عن سماع القرآن والذكر؟؟
فقال سماحة الشيخ ابن باز-رحمه الله-: لابد أن يكون لها وقت خاص قليل، ما تشغلهم عما هو أهم، لا عن دروسهم، ولا عن القرآن، ولا عن الذكر، فيكون لها وقت قليل.. لكن إذا أُريدت يكون لها وقت، إما قبل الدروس ، أو بعد الدروس، أو في أثناء الدرس، إذا كان في هناك فائدة، تتعلق بالمصلحة الإسلامية، على ما يُوجّه اللجنة، لجنة العلماء، على توجيه اللجنة التي تختص بهذا الشيء، تنظر فيه، إما أن تقول تُفعل، أو لا تُفعل، أو تكون في وقت كذا، أو في خمس دقائق، أو في عشر دقائق، أو في أقل أو في أكثر..[ثم انقطع الصوت] ثم قال الشيخ ابن باز: إذا كانت إسلامية فهي إسلامية، وإذا كانت ليست إسلامية وهي مباحة فهي مباحة على حسب، قد تكون أناشيد شيطانية
فقال سائل:لكن ياشيخ بالنسبة للتسجيلات الإسلامية-جزاهم الله خير- عندهم الكثير منها وخالية من الموسيقى، وفي بعض منها شيء مختلط[غير متأكدة] بالموسيقى، والموسيقى حرام؟ فقال الشيخ ابن باز-رحمه الله-: ما أدري والله، أنا ما عندي خبر منها ، لكن القاعدة موافقة الشرع ومخالفته، الذي فيها موسيقى تُمنع.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya:
"Banyak perbincangan seputar nasyid-nasyid Islam, manusia nampak kebingungan tentang masalah ini, dan telah datang pertanyaan ini secara khusus sebagai tema yang paling banyak ditanyakan, maka kami berharap kepada Anda untuk memberikan penjelasan tentang persoalan ini?"

Syaikh menjawab:
"Nasyid-nasyid Islami ini, di dalamnya perlu ada perincian. Tidak mungkin menjawabnya secara general (memukul rata). Harus dibahas secara rinci. Maka, semua sya'ir atau nasyid, baik yang dinamakan nasyid Islami atau selainnya, harus bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat yang suci. Jika nasyid bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat, berupa pujian terhadap akhlak yang terpuji, seperti kedermawanan, anjuran untuk berjihad fisabilillah, anjuran melindungi tanah air dari musuh, anjuran ikhlas dalam beramal, anjuran berbakti kepada orang tua, memuliakan tetangga, dan perilaku islami lainnya, dengan cara yang jelas dan tidak ada di dalamnya pertentangan dengan syariat, maka hal itu tidak mengapa. Sebagaimana komentar Imam Asy Syafi'i –rahimahullah- tentang sya'ir, dan ucapan beliau ini adalah mutiara yang bagus, katanya: "kebaikannya adalah baik, dan keburukannya adalah buruk."
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya di antara sya'ir itu terdapat hikmah."
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah .... (QS. Asy Syu'ara (26): 224-227)
Mereka inilah yang mendapatkan pengecualian, jika sya'irnya baik, maka itu termasuk amal shalih, maka mereka inilah yang dikecualikan.
Tetapi jika sya'irnya tidak termasuk yang seperti ini, lantaran mengajak kepada hal-hal yang bertentangan dengan syariat, maka itu bukanlah perkara yang baik, dan tidak seharusnya bertoleransi dengannya, bahkan wajib meninggalkannya hingga sya'ir tersebut sesuai dengan syariat Allah Ta'ala.
Hendaknya setiap nasyid diserahkan kepada ulama atau lembaga ulama untuk menilai dan mengoreksinya. Maka, jika sudah dikoreksi, dan mereka membolehkan untuk disampaikan di sekolah atau selain sekolah ... Janganlah diserahkan kepada tiap orang untuk menilai nasyid ini, tetapi hendaknya dinilai oleh lembaga. Jika yang menilai adalah dari lembaga ilmu pengetahuan umum maka mereka menilai dengan sudut pandangnya itu, jika yang menilai dari lembaga pesantren maka mereka juga akan menilai dengan sudut pandangnya. .. dari sudut apa pun cara pandang menilai nasyid-nasyid ini: tidaklah diberi kelapangan sampai dikembalikan kepada lembaga ahli ilmu dan pengetahuan, yang sudah diketahui keistiqamahannya terhadap syariat, karena menggampangkan masalah ini akan membawa kepada keburukan yang banyak .. maka harus dikembalikan kepada ulama yang mereka dikenal keilmuan, keutamaan, dan kecemburuannya terhadap Islam ... (ucapan tidak jelas) .. mereka menjelaskan cacat apa saja yang ada padanya, lalu mengarahkan para penasyid kepada apa yang lebih afdhal ..
Lalu Penanya berkata: Tentu .., diantara pendapat Anda janganlah berlebihan terhadap nasyid-nasyid ini, hingga memalingkan dari mendengarkan Al Quran, karena sebagian ikhwah ada yang mengeluh, bahwa nasyid telah memalingkan mereka dari mendengarkan Al Quran dan dzikir?
Syaikh bin Baz menjawab: "Dia semestinya memiliki waktu khusus yang sedikit saja, jangan sampai nasyid menyibukkan mereka dari hal yang lebih penting, baik dibanding pelajaran mereka, dibanding Al Quran, dan dibanding dzikir, maka hendaknya nasyid itu porsinya sedikit saja .. tetapi jika engkau menghendaki waktu khusus untuknya, baik sebelum belajar, atau setelahnya, atau ketika belajar, jika hal itu ada manfaat yang terkait dengan maslahat islam yang telah diarahkan oleh lembaga ulama yang secara khusus memberikan perhatian dalam masalah ini. Baik yang dikatakan oleh mereka untuk dilakukan atau tidak dilakukan, atau pada waktu sekian , atau selama lima menit atau sepuluh menit, atau lebih sedikit atau juga lebih lama .. " (lalu suara terputus).
Kemudian, Syaikh bin Baz berkata: "Nasyid yang Islami maka dia islami, yang tidak islami maka dia boleh pada kadar tertentu, jika berlebihan maka menjadi nasyid syaithani."
Berkata penanya: "Tetapi Ya Syaikh, kaitannya dengan perusahaan rekaman Islam –semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada mereka- banyak di antara nasyid-nasyid yang tanpa musik, dan sebagiannya sudah dicampur dengan musik ... (suara tidak kuat), dan musik itu haram?
Syaikh menjawab: "Saya tidak tahu, demi Allah, saya tidak punya info tentang itu. Tetapi, yang jadi kaidah adalah: 'sesuai dengan syariat dan bertentangan dengan syariat', jika pakai musik maka itu terlarang." (selesai fatwa ketiga)
Fatwa 4:
سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز س: يقول ابنتي تذهب إلى الروضة رياض الأطفال ولكن من بين الأشياء التي يؤدونها في الروضة أن المدرسة تفتح لهم المسجل وتسمعهم الأناشيد الغير مبتذلة مثلا عن الأم والوطن وما شابه ذلك ولكن تلك الأناشيد تكون مصحوبة بالموسيقي فهل يجوز لي أن أدع ابنتي تذهب وهل يكون على ذنب إذا استمعت لمثل ذلك؟ ج- هذا غلط من المدرسة أما سماع الطفلة الأناشيد السليمة فلا حرج في ذلك وهكذا الطفل وهكذا غيرهما من الأناشيد التي ليس فيها محرم إنما هي للتشجيع على الأخلاق الفاضلة أو ما يتعلق بواجب الوطن عليهم وواجب دولتهم ونحو ذلك أما اصطحابها بالموسيقي فهذا غلط ولا يجوز والواجب على القائم على الروضات منع ذلك حتى لا يبقى هناك مانع من مجيء الأطفال إليهم فعليك أنت وإخوانك أن تتصلوا بالمسئولين عن هذه الروضات حتى يمنعوا هذا الشيء لأن هذا لا حاجة إليه ويربى الأطفال الصغار على حب الموسيقي والتلذذ بها واستماعها بعد ذلك فالطفل على ما ربي عليه فعليكم أن تتصلوا بالمسئولين بهذا عن المدارس حتى يمنعوا ذلك وحتى تسلم هذه الروضات مما يخالف شرع الله سبحانه وتعالى.

Penanya berkata:
"Anak putri saya pergi ke taman sekolah TK, tetapi di sana sekolah menyambutnya dengan berbagai sambutan diantaranya adalah rekaman nasyid yang diperdengarkan kepada mereka, bertemakan semangat berkorban kepada ibu dan tanah air misalnya, dan sejenisnya. Tetapi pada nasyid tersebut diiringi dengan musik, apakah boleh bagi saya membiarkan anak saya pergi ke sana, dan apakah berdosa jika dia mendengarkan hal seperti itu?"
Jawab Syaikh:
"Itu merupakan kesalahan sekolah. Ada pun bagi anak-anak puteri mendengarkan nasyid-nasyid yang baik maka tidak mengapa hal itu. Begitu pula tidak mengapa bagi anak-anak putera dan selain mereka, yakni nasyid-nasyid yang tidak mengandung keharaman. Nasyid yang menggelorakan terbentuknya akhlak yang mulia, dan apa-apa yang terkait dengan kewajiban mereka terhadap tanah air dan negara. Ada pun iringan musik, maka itu kesalahan dan tidak boleh, dan wajib bagi penjaga taman untuk mencegahnya, sampai tidak ada lagi hal-hal yang menghalangi anak-anak untuk datang ke sana. Maka, anda dan saudara anda wajib menyampaikan kepada penanggung jawab taman-taman ini, sampai mereka menceah hal ini, sebab hal ini tidak dibutuhkan untuk mendidik mereka agar mencintai musik, menikmati, dan mendengarkannya setelah itu. Maka, hendaknya anak-anak mendapatkan apa-apa yang bisa mendidiknya, maka anda sampaikan hal ini kepada pihak penanggung jawab sekolah tentang hal ini, sehingga mereka mencegahnya sampai TK ini bersih dari apa-apa yang berselisihan dengan syariat Allah Ta'ala." (selesai fatwa keempat)
2. Al 'Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah
محدّث الديار الشاميّة الشيخ محمد ناصر الدين الألباني رحمه الله إذا كانت هذه الأناشيد ذات معانٍ إسلامية ، و ليس معها شيء من المعازف و آلات الطرب كالدفوف و الطبول و نحوِها ، فهذا أمرٌ لا بأس به ، و لكن لابد من بيان شرطٍ مهم لجوازها ، وهو أن تكون خالية من المخالفات الشرعية ؛ كالغلوّ ، و نَحوِه ، ثم شرط آخر ، و هو عدم اتخاذها دَيدَناً ، إذ ذلك يصرِفُ سامعيها عن قراءة القرآن الذي وَرَدَ الحضُّ عليه في السُنَّة النبوية المطهرة ، و كذلك يصرِفُهُم عن طلب العلم النافع ، و الدعوة إلى الله سبحانه ]العدد الثاني من مجلة الأصالة ، الصادر بتاريخ 15 جمادى الآخرة 1413هـ ، ص : 73 [
Beliau berkata:
"Jika nasyid-nasyid ini memiliki muatan-muatan islami, dan tidak diiringi dengan alat-alat musik seperti dufuf (gendang), dan semisalnya, maka ini sesuatu yang tidak mengapa. Tetapi harus dijelaskan syarat penting untuk kebolehannya. Hendaknya tidak bertentangan dengan syariat, seperti ghuluw (melampaui batas) dan semisalnya, kemudian syarat lainnya, yaitu tidak menjadikannya sebagai kebiasaan, ingatlah, hal itu bisa mengalihkannya dari membaca Al Quran yang telah diperintahkan dengan tegas dalam sunah nabi, dan juga mengalihkannya dari menuntut ilmu yang bermanfaat, dan da'wah ilallahu Subhanahu wa Ta'ala .(Majalah Ashalah, edisi 2, tanggal 15 Jumadil Akhir 1413H, Hal. 73)

3. 'Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin Rahimahullah
الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله
ما رأى فضيلتكم فى الأناشيد الاسلامية ؟
الأناشيد الإسلامية كثر الكلام عليها وأنا لم أستمع إليها إلا من مدة طويلة، وهي أول ما خرجت لا بأس بها، ليس فيها دفوف، وتؤدى تأدية ليس فيها فتنة ، وليست على نغمات الأغاني المحرمة، لكن تطورت في الواقع وصارت يسمع منها قرع يمكن أن يكون غير الدف، ثم تطورت باختيار ذوي الأصوات الجميلة الفاتنة، ثم تطورت أيضا إلى أنها تؤدى على صفة الأغاني المحرمة، لذلك بقي في النفس منها شيء وقلق، ولا يمكن للإنسان أن يفتي بأنها جائزة على كل حال ولا محرمة على كل حال، وإذا كانت خالية من الأشياء التي ذكرتها فهي جائزة، أما إذا كانت مصحوبة بدف، أو كان مختارا لها ذوي الأصوات الجميلة التي تفتن ، أو أديت على نغمات الأغاني الهابطة فإنه لا يجوز السماع لها
"Banyak perbincangan tentang nasyid-nasyid Islami, dan saya tidak lagi mendengarkannya sudah sejak lama. Ketika awal keluarnya nasyid tidaklah mengapa. Tidak pakai dufuf (rebana), ditampilkan dengan tanpa hal-hal yang mengandung fitnah, tidak diperindah dengan nyanyian yang diharamkan, tetapi perkembangan realitanya, mendengarkan sebagian nasyid menjadi sesuatu yang berbahaya, mungkin bukan cuma memakai rebana, lalu berkembang lagi dengan memakai suara-suara yang indah mengandung fitnah, lalu berkembang lagi ditampilkan seperti penampilan lagu-lagu yang diharamkan, karena itu nasyid telah menyisakan sesuatu yang menggelisahkan, maka tidak mungkin manusia memfatwakan, bahwa nasyid itu boleh pada semua keadaan, dan haram dalam semua keadaan. Jika nasyid tersebut tidak terdapat halhal yang saya sebutkan, maka boleh saja mendnegarkannya. Ada pun jika diiringi dengan rebana, atau memakai suara - suara indah dan mengandung fitnah, dan ditampilkan dengan dihiasi cara-cara penyanyi rendahan, maka tidak boleh mendengarkannya." (Selesai fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin hafizhahullah
الشيخ عبدالله بن عبدالرحمن الجبرين
النشيد هو قراءة القصائد إما بصوت واحد أو بترديد جماعتين، وقد كرهه بعض المشايخ، وقالوا: إنه من طرق الصوفية، وأن الترنم به يشبه الأغاني التي تثير الغرائز، ويحصل بها نشوة ومحبة لتلك النغمات. ولكن المختار عندي: جواز ذلك- إذا سلمت من المحذور- وكانت القصائد لا محذور في معانيها، كالحماسية والأشعار التي تحتوي على تشجيع المسلمين على الأعمال، وتحذيرهم من المعاصي، وبعث الهمم إلى الجهاد، والمسابقة في فعل الخيرات، فإن مصلحتها ظاهرة، وهي بعيدة عن الأغاني، وسالمة من الترنم ومن دوافع الفساد.

"Nasyid adalah bacaan qasidah, baik dengan satu suara atau dua kelompk yang saling bersahutan, sebagian masyayikh ada yang memakruhkannya, mereka mengatakan itu merupakan jalan sufi, dan sesungguhnya melantunkannya merupakan penyerupaan dengan nyanyian yang berdampak bagi gharizah (instink), yang akan menghasilkan mabuk cinta lantaran keindahannya. Tetapi pendapat yang dipilih menurutku adalah hal itu boleh, jika bersih dari hal-hal yang harus diwaspadai. Qasidah yang makna-maknanya baik, seperti semangat atau syi'ar-syi'ar yang bisa menyemangati kaum musimin untuk beramal, dan memperingatkan mereka dari maksiat, dan membangkitkan semangat jihad, berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan, maka maslahatnya jelas, dan jauh dari sifat nyanyian, bersih dan terhindar dari lantunan yang merusak." (selesai fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin)
5. Lajnah Daimah Lil Ifta' Saudi Arabia
اللجنةُ الدائمةُ للإفتاءُ اعتَبَرَت اللجنةُ الدائمةُ للإفتاءُ الأناشيدَ بديلاً شرعيّاً عن الغناء المحرّم ، إذ جاء في فتاواها يجوز لك أن تستعيض عن هذه الأغاني بأناشيد إسلامية ، فيها من الحِكَم و المواعظ و العِبَر ما يثير الحماس و الغيرة على الدين ، و يهُزُّ العواطف الإسلامية ، و ينفر من الشر و دواعيه ، لتَبعَثَ نفسَ من يُنشِدُها ومن يسمعُها إلى طاعة الله ، و تُنَفِّر من معصيته تعالى ، و تَعَدِّي حدوده ، إلى الاحتماءِ بحِمَى شَرعِهِ ، و الجهادِ في سبيله . لكن لا يتخذ من ذلك وِرْداً لنفسه يلتزمُه ، و عادةً يستمر عليها ، بل يكون ذلك في الفينة بعد الفينة

Lajnah Daimah Lil Ifta' telah menjelaskan, nasyid-nasyid Islami sebagai alternatif pengganti yang syar'i terhadap nyanyian-nyayian yang haram. Demikianlah fatwanya.
"Boleh bagimu menggantikan nyanyian tersebut dengan nasyid-nasyid Islami, di dalamnya terdapat hikmah, pelajaran, dan 'ibrah yang memberikan pengaruh bagi semangat dan kecemburuan terhadap agama, menggerakkan belas kasih Islami, menjauh dari keburukan dan ajakannya, untuk membangkitkan ketaatan kepada Allah baik bagi yang menyenandung dan yang mendengarkannya, menjauh dari maksiat kepadaNya, melanggar batasNya, menjaga diri dengan syariatNya, serta berjihad di jalanNya.
Tetapi hendaknya tidak menjadikannya sebagai sebuah kelaziman dan kebiasaan terus menerus, melainkan sesekali saja.... dan seterusnya.
Sumber:milist

03 Februari 2009

Ikhwan Menyerukan Pemimpin Arab Mengikuti Erdogan


Para anggota parlemen Ikhwanul Muslimin Mesir, memberikan penghargaan yang tinggi terhadap sikap moral yang ditunjukkan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang mengikuti pertemuan para pemimpin dunia, yang membahas tentang ekonomi global di Davos, Swiss. Di mana Erdogan meninggalkan pertemuan Forum Davos, sesudah moderator David R.Ignatius, bertindak tidak adil, dan tidak memberikan kesempatan berbicara kepada Erdogan. David Ignatius, wartawan Washington Post, hanya memberikan kesempatan kepada Presiden Israel, Simon Peres, selama 25 menit, membela diri atas agresi militernya ke Gaza.
Pemimpin Fraksi Ikhwan di Parlemen Mesir, Dr.Mohammed El-Katatny, di depan pers, di Cairo, menyatakan : “Kami sangat memperhatikan dan mengikuti bencana kemanusiaan yang terjadi di Gaza, yang dialami kaum muslimin Palestina. Kami sangat menghargai atas keberanian Perdana Menteri Turki, Erdogan di dalam Forum Ekonomi di Davos, yang mengkritik Presiden Israel, Simon Peres, atas pidatonya, yang telah melakukan pembunuhan terhadap anak-anak, wanita dan orang tua di Gaza”, ungkap Katatny.
El-Katatny menyerukan para pemimpin Arab, khususnya yang berhubungan dengan Israel, dan terlibat di dalam forum-forum internasional mengikuti jejak dan mencontoh tindakan pemimpin Turki, Recep Tayyib Erdogan, dan menyatakan penolakan terhadap tindakan Israel yang brutal terhdap rakyat Palestina.
“Ini lebih layak bagi para pemimpin Arab, dari pada menyombongkan sikap arabismenya, dan lebih menunjukkan perhatiannya terhadap rakyat Palestina yang sudah berlumuran darah”, ujar Katatny. Tapi, justru para pemimpin Arab lebih sibuk memikirkan nasib Israel dibandingkan memikirkan nasib saudaranya di Gaza, yang didzalimi Israel. (m/pic)
Sumber:www.eramuslim.com

Dampak Perang, Anak-Anak Gaza Ciptakan "Alfabet Baru"


Perang brutal Israel yang dilancarkan ke Jalur Gaza selama 22 hari melekat kuat dalam ingatan anak-anak Gaza. Sedemikian melekatnya, sehingga anak-anak Gaza memaknai susunan abjad dalam alfabet dengan kata-kata yang berkaitan dengan peperangan yang baru saja mereka alami.
Shaimaa, seorang siswi sekolah dasar di Gaza berusia 10 tahun, tidak lagi menuliskan huruf A misalnya, untuk kata "Apple" atau huruf B untuk kata "Ball". Shaimaa lebih memilik kata "Apache" (jenis helikopter tempur yang digunakan Israel saat menyerang Gaza) untuk huruf A, kata "Blood" (darah) untuk huruf B, kata Coffin (peti mati) untuk huruf C dan kata "Destruction" (kehancuran) untuk huruf D dan seterusnya.
Shaimaa menuliskan koleksi kata-kata semacam itu untuk semua alfabet dalam buku catatannya yang berwarna-warni. Shaimaa bahkan menyatakan, alfabet yang dibuatnya itu harus dipadukan ke dalam kurikulum sekolah karena lebih cocok digunakan untuk belajar sehari-sehari di sekolah.
Hampir semua anak-anak Gaza melakukan hal yang sama dengan Shaimaa. Mereka membuat membuat kata-kata dari susunan alfabet berdasarkan pengalaman mereka melihat dan merasakan sendiri kekejaman Israel dalam perang yang baru saja usai.
Seorang guru di Gaza bernama Amal Yunis mengakui banyak anak-anak tingkat taman kanak-kanak di kelasnya yang juga menggunakan kata-kata yang hampir sama dengan yang digunakan Shaimaa. Ia menceritakan pengalamannya ketika mengajar di dalam kelas, ia menempelkan gambar apel (Apple), bunga (Flower) dan kelinci (Rabbits) dengan warna-warna yang mencolok dengan maksud membuat anak-anak senang melihatnya. Amal lalu bertanya pada murid-muridnya,"Anak-anak, siapa yang tahu kata yang diawali dengan huruf 'F'?
Seorang muridnya bernama Amgad menjawab,"Saya tahu, Bu. 'F' untuk 'F-16' (jenis pesawat tempur yang digunakan Israel)."
Yunis berusaha menjelaskan dan meyakinkan murid-muridnya bahwa jawaban yang benar adalah "Flower". Tapi ia makin terkejut ketika siswa-siswi kecilnya malah memberikan kata-kata yang lain seperti "Fear" (takut), "Flee" (mengungsi) dan "Fire" (api, kebakaran).
Serangan keji Israel ke Gaza membuat anak-anak di Gaza kini akrab dengan bahasa-bahasa yang merefleksikan pengalaman mengerikan mereka selama perang berlangsung. Seorang ibu bernama Umi Faras mengatakan, anak-anaknya kini lebih banyak memperbincangkan tentang perang, pemboman dan kematian. Salah seorang anak lelaki Umi Faras yang masih berusia tiga tahun, sampai sekarang bahkan masih suka gemetar dan menjerit ketakutan jika mendengar suara-suara bising di luar rumah.
"Dia akan menangis dan berteriak, 'ibu .. bom, bom'," tutur Umi Faras.
Lain lagi dengan Alaa Al-Shawwa, seorang anak perempuan Gaza berusia 6 tahun. Ia tidak percaya dengan dongeng-dongeng yang diceritakan ibunya sebelum ia tidur. Ala selalu mengatakan pada orang tuanya, "Tidak Bu. Anak perempuan berbaju merah itu tidak dimakan oleh srigala. Tapi dia dibunuh oleh orang-orang Israel."
Perilaku anak-anak di Gaza, seperti Shaimaa atau Al-Shawwa menunjukkan bahwa mereka mengalami masa-masa yang menakutkan dan penuh tekanan selama berminggu-minggu serangan brutal Israel. Trauma akibat perang telah merampas sifat anak-anak mereka.
"Mereka lupa apa itu damai, gembira dan lucu. Mereka cuma ingat tentang perang, darah dan kematian," kata Fadl Abu Hayen, direktur Center for Social Rehabilitation and Crisis Management.
Itulah gambaran anak-anak di Gaza sekarang, mereka kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya bisa mereka nikmati dengan keriangan dan kehangatan. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Queen, Kanada menyebutkan bahwa pola kekerasan yang dialami anak-anak Palestina mengakibatkan dampak psikologis yang sangat serius dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya. (ln/iol)

Sumber:www.eramuslim.com

Ada Yahudi di Indonesia?


Menjelang awal tahun 2009, Israel membumihanguskan Gaza. Tapi usai agresi itu, bangsa Yahudi mulai menuai apa yang dilakukan oleh pemerintahanya terhadap bangsa Palestina.
Balasan itu tidak berupa pembantaian seperti yang diterima oleh warga Gaza, tetapi sikap warga dunia yang secara serentak seakan dikomando, memusuhi orang-orang Yahudi.
Tidak hanya orang Islam, tetapi juga orang sekular dan kristen pun menjadi sangat membenci bangsa yang menjadikan Talmud sebagai kitab suci mereka. Yahudi menyebut sikap itu sebagai anti-Semit.
Saat ini, jumlah keseluruhan populasi Yahudi di dunia adalah 14 juta jiwa, dengan distribusi 7 juta di AS, 5 juta di Asia, 2 juta di Eropa, dan 100 ribu di Afrika.
Di negara-negara Islam, salah satunya Indonesia, jumlah total Yahudi adalah 1.5 juta orang. Yahudi membuat perbandingan dengan kalkulasi seperti ini satu Yahudi untuk 107 orang Islam, di seluruh dunia.
Saat ini, seperti diketahui, produk Yahudi mengepung seluruh sendi kehidupan di semua belahan dunia. Di antaranya Polo Ralph Lauren, Coca Cola, Levi's Jeans Levi Strauss , DKNY Donna Karan, Dunkin Donuts, dll.
Begitu juga dengan para ilmuwan dan tokoh politik internasional didominasi oleh Yahudi. Ada nama Henry Kissinger (mantan Sekretaris Negara AS), George Soros (pengamat ekonomi dan politik), atau Steven Speilberg (sutradara film Hollywood). Di bidang media, CNN, ABC, Washington Post, NY TImes, Disney juga dikuasai oleh Yahudi.
Di Indonesia sendiri saat ini diperkirakan kaum Yahudi berjumlah 20 orang. 6 orang di antaranya adalah orang-orang yang terkenal.
(sa/berbagaisumber)

Tentang Web Resmi Izzatulislam


Mohon maaf kepada teman-teman yang banyak menanyakan dan menunggu web resmi Izzatulislam bisa diakses. Namun sampai dengan saat ini web resmi kami (www.izis.web.id) belum bisa diakses karena masih dalam pembuatan. Mohon doanya agar bisa segera selesai. Untuk sementara segala informasi tentang Izzatulislam bisa diakses ke blog saya ini.

Situs resmi Izzatulislam

Permohonan maaf dari kami, bahwa banyak teman-teman yang sudah bertanya-tanya tentang web resmi dari Izzatulislam (www.izis-web.com). dan web resmi kami saat ini belum bisa diakses karena sedang dalam pembuatan. mohon maaf dan mohon doanya agar web resmi kami dapat segera bisa di lihat oleh teman-teman semua. Untuk sementara informasi tentang Izzatulislam bisa melihat blog saya ini. Syukron